Mengapa Jasa Absurd Akan Jadi Tren di 2026: Saat Solusi Biasa Tidak Lagi Cukup
PenulisMinsurd
Tanggal18 Jan 2026

1 min read
12 views
0 shares
Jasa absurd tumbuh bukan karena dunia ingin menjadi aneh, tetapi karena dunia sudah terlalu rumit untuk dijawab dengan cara lama. Dalam kondisi seperti ini, solusi yang berbeda bukan lagi risiko, melainkan kebutuhan.
Selama bertahun-tahun, dunia jasa dibangun di atas satu asumsi besar: setiap masalah bisa dirumuskan dengan jelas, lalu diselesaikan dengan solusi yang rapi. Brief harus detail. Proses harus sistematis. Hasil harus bisa diprediksi. Pendekatan ini bekerja cukup lama, sampai dunia berubah lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memahaminya.
Hari ini, banyak masalah tidak lagi hadir dalam bentuk yang jelas. Mereka datang sebagai kebingungan, kecemasan, dan perasaan “ada yang salah tapi tidak tahu di mana”. Di titik inilah solusi biasa mulai terasa tidak cukup.
Inilah awal mula mengapa Jasa Absurd mulai mendapatkan tempat.
Absurd bukan berarti asal-asalan atau tidak masuk akal. Dalam konteks ini, absurd adalah respons terhadap dunia yang terlalu kompleks untuk disederhanakan secara paksa. Ketika pendekatan konvensional gagal menjawab persoalan yang semakin personal dan kontekstual, maka cara berpikir yang tidak biasa justru menjadi relevan.
Masalah sosial ikut mendorong perubahan ini. Tekanan hidup modern, ekspektasi sosial yang bertabrakan, serta banjir informasi membuat banyak orang kelelahan secara mental. Mereka bukan hanya mencari hasil, tapi pemahaman. Bukan sekadar jawaban, tapi sudut pandang baru. Solusi generik yang dulunya aman, kini terasa hampa.
Di sinilah jasa absurd mulai muncul ke permukaan.
Jasa-jasa ini sering kali terlihat aneh di awal. Pendekatannya tidak selalu lurus. Prosesnya tidak selalu bisa dijelaskan dengan template. Namun justru karena itu, ia mampu menjangkau area yang tidak tersentuh oleh solusi mainstream. Ia memberi ruang untuk eksperimen, intuisi, dan pemikiran melenceng yang sering kali lebih jujur terhadap realitas masalah.
Menuju 2026, tren ini diperkirakan akan semakin kuat. Dunia kerja dan Gig Economy bergerak ke arah fleksibilitas dan relevansi, bukan sekadar formalitas. Nilai tidak lagi ditentukan oleh seberapa rapi metode yang digunakan, tapi seberapa tepat solusi tersebut menjawab konteks.
Brand mulai mencari pendekatan yang terasa manusiawi. Individu mulai mencari bantuan yang tidak menggurui. Organisasi mulai sadar bahwa inovasi tidak selalu lahir dari ruang rapat yang steril, tapi dari keberanian mencoba hal yang belum tentu sempurna.
Jasa absurd tumbuh bukan karena dunia ingin menjadi aneh, tetapi karena dunia sudah terlalu rumit untuk dijawab dengan cara lama. Dalam kondisi seperti ini, solusi yang berbeda bukan lagi risiko, melainkan kebutuhan.
Dan di situlah absurd berubah posisi: dari sesuatu yang dulu dihindari, menjadi sesuatu yang justru dicari.
Hari ini, banyak masalah tidak lagi hadir dalam bentuk yang jelas. Mereka datang sebagai kebingungan, kecemasan, dan perasaan “ada yang salah tapi tidak tahu di mana”. Di titik inilah solusi biasa mulai terasa tidak cukup.
Inilah awal mula mengapa Jasa Absurd mulai mendapatkan tempat.
Absurd bukan berarti asal-asalan atau tidak masuk akal. Dalam konteks ini, absurd adalah respons terhadap dunia yang terlalu kompleks untuk disederhanakan secara paksa. Ketika pendekatan konvensional gagal menjawab persoalan yang semakin personal dan kontekstual, maka cara berpikir yang tidak biasa justru menjadi relevan.
Masalah sosial ikut mendorong perubahan ini. Tekanan hidup modern, ekspektasi sosial yang bertabrakan, serta banjir informasi membuat banyak orang kelelahan secara mental. Mereka bukan hanya mencari hasil, tapi pemahaman. Bukan sekadar jawaban, tapi sudut pandang baru. Solusi generik yang dulunya aman, kini terasa hampa.
Di sinilah jasa absurd mulai muncul ke permukaan.
Jasa-jasa ini sering kali terlihat aneh di awal. Pendekatannya tidak selalu lurus. Prosesnya tidak selalu bisa dijelaskan dengan template. Namun justru karena itu, ia mampu menjangkau area yang tidak tersentuh oleh solusi mainstream. Ia memberi ruang untuk eksperimen, intuisi, dan pemikiran melenceng yang sering kali lebih jujur terhadap realitas masalah.
Menuju 2026, tren ini diperkirakan akan semakin kuat. Dunia kerja dan Gig Economy bergerak ke arah fleksibilitas dan relevansi, bukan sekadar formalitas. Nilai tidak lagi ditentukan oleh seberapa rapi metode yang digunakan, tapi seberapa tepat solusi tersebut menjawab konteks.
Brand mulai mencari pendekatan yang terasa manusiawi. Individu mulai mencari bantuan yang tidak menggurui. Organisasi mulai sadar bahwa inovasi tidak selalu lahir dari ruang rapat yang steril, tapi dari keberanian mencoba hal yang belum tentu sempurna.
Jasa absurd tumbuh bukan karena dunia ingin menjadi aneh, tetapi karena dunia sudah terlalu rumit untuk dijawab dengan cara lama. Dalam kondisi seperti ini, solusi yang berbeda bukan lagi risiko, melainkan kebutuhan.
Dan di situlah absurd berubah posisi: dari sesuatu yang dulu dihindari, menjadi sesuatu yang justru dicari.
Ditulis oleh Minsurd
Content Creator di Jasurd yang hobi nyari cuan sampingan. Suka nulis tentang tips freelance dan travel hack.