Absurd: Dari Filsafat, Keresahan Sosial, hingga Lahirnya Cara Baru Mencari Nafkah
PenulisMinsurd
Tanggal18 Jan 2026

1 min read
14 views
0 shares
Hari ini, absurd telah berubah. Dari konsep filsafat, menjadi pengalaman sosial. Dari keresahan kolektif, menjadi cara berpikir. Dan kini, perlahan, menjadi sumber nilai ekonomi.
Kata absurd lahir jauh sebelum dunia mengenal startup, freelancer, atau Gig Economy. Ia tumbuh dari kegelisahan manusia. Dalam filsafat eksistensial, absurd menggambarkan benturan antara hasrat manusia untuk menemukan makna hidup dan kenyataan dunia yang sering kali tidak memberi jawaban. Albert Camus menyebut absurd sebagai kondisi ketika manusia terus bertanya, sementara realitas tetap diam.
Namun absurd tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berganti bentuk.
Di era modern, absurd tidak lagi sekadar soal hidup dan mati, makna dan kehampaan. Ia menjelma menjadi perasaan yang lebih sehari-hari: lelah, bingung, dan kehilangan arah di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat. Kita hidup di zaman informasi berlimpah, tapi kejelasan justru langka. Semua orang dituntut produktif, relevan, dan “punya value”, bahkan ketika mereka sendiri belum sepenuhnya paham siapa dirinya.
Di sinilah absurd mulai menyentuh ranah sosial.
Banyak orang bekerja bukan karena yakin, tapi karena takut tertinggal. Sekolah, kuliah, kerja, mengejar gelar, mengejar jabatan, mengejar validasi. Media sosial memajang kesuksesan dalam potongan rapi, sementara di balik layar, kebingungan menjadi pengalaman kolektif. Ironisnya, dunia terus meminta jawaban, sementara semakin sedikit ruang untuk bertanya.
Masalahnya bukan kurangnya solusi. Justru sebaliknya: terlalu banyak solusi generik untuk masalah yang semakin personal.
Dalam konteks ini, muncul fenomena menarik. Banyak orang tidak lagi datang dengan permintaan yang jelas. Mereka datang dengan kebingungan. Mereka tidak selalu tahu apa yang mereka butuhkan, tapi tahu bahwa pendekatan lama tidak lagi bekerja. Di sinilah absurd berhenti menjadi konsep filsafat, dan mulai menjadi pengalaman sosial.
Perlahan, perubahan ini merembet ke cara manusia bekerja dan mencari nafkah.
Dunia kerja yang dulu mengandalkan jalur lurus kini mulai retak. Karier tidak lagi linear. Profesi baru lahir dari hal-hal yang dulu dianggap tidak serius, tidak penting, bahkan tidak masuk akal. Kreativitas, ironi, sudut pandang nyeleneh, dan pendekatan anti-mainstream mulai mendapat tempat. Bukan karena dunia ingin menjadi aneh, tapi karena dunia butuh cara baru untuk memahami dirinya sendiri.
Masuk ke ranah ekonomi, absurd mengalami transformasi yang paling mengejutkan.
Dalam gig economy dan dunia freelancer, nilai tidak lagi hanya ditentukan oleh gelar atau jabatan, tapi oleh relevansi. Masalah yang kompleks sering kali tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan standar. Di sinilah muncul dua peran alami yang makin sering kita temui, meski belum banyak disebut secara eksplisit: Seeker dan Solver.
Seeker adalah mereka yang datang dengan keresahan, kebingungan, atau masalah yang tidak bisa dirumuskan secara rapi. Solver adalah mereka yang berani menawarkan sudut pandang berbeda, solusi tidak biasa, dan pendekatan yang kadang terlihat absurd di awal, tapi justru relevan di akhir.
Hubungan ini bukan sekadar transaksi jasa. Ia adalah cerminan zaman.
Ditahun 2026, Jasa Anti Mainstream diprediksi akan semakin menonjol. Bukan karena tren semata, tapi karena kebutuhan. Dunia yang terlalu kompleks tidak bisa terus disederhanakan dengan solusi dangkal. Brand butuh pendekatan yang terasa manusiawi. Individu butuh ruang untuk bereksperimen. Organisasi butuh keberanian untuk mencoba hal-hal yang belum tentu rapi, tapi jujur.
Bagi Gen Millennial dan Gen Z, absurd bukan ancaman. Mereka tumbuh bersama meme, satire, dan ironi sebagai bahasa sehari-hari. Mereka paham bahwa keanehan sering kali lebih jujur daripada kesempurnaan yang dipoles. Dalam konteks ini, absurd bukan kekacauan, melainkan adaptasi.
Hari ini, absurd telah berubah. Dari konsep filsafat, menjadi pengalaman sosial. Dari keresahan kolektif, menjadi cara berpikir. Dan kini, perlahan, menjadi sumber nilai ekonomi.
Beberapa orang masih menyebutnya aneh. Sebagian menyebutnya eksperimen. Namun semakin banyak yang mulai melihat satu hal yang sama: di balik keanehan itu, ada peluang. Dan di ruang-ruang itulah, ekosistem baru mulai tumbuh, menghubungkan mereka yang mencari dengan mereka yang berani menjawab, meski caranya tidak selalu konvensional.
Namun absurd tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berganti bentuk.
Di era modern, absurd tidak lagi sekadar soal hidup dan mati, makna dan kehampaan. Ia menjelma menjadi perasaan yang lebih sehari-hari: lelah, bingung, dan kehilangan arah di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat. Kita hidup di zaman informasi berlimpah, tapi kejelasan justru langka. Semua orang dituntut produktif, relevan, dan “punya value”, bahkan ketika mereka sendiri belum sepenuhnya paham siapa dirinya.
Di sinilah absurd mulai menyentuh ranah sosial.
Banyak orang bekerja bukan karena yakin, tapi karena takut tertinggal. Sekolah, kuliah, kerja, mengejar gelar, mengejar jabatan, mengejar validasi. Media sosial memajang kesuksesan dalam potongan rapi, sementara di balik layar, kebingungan menjadi pengalaman kolektif. Ironisnya, dunia terus meminta jawaban, sementara semakin sedikit ruang untuk bertanya.
Masalahnya bukan kurangnya solusi. Justru sebaliknya: terlalu banyak solusi generik untuk masalah yang semakin personal.
Dalam konteks ini, muncul fenomena menarik. Banyak orang tidak lagi datang dengan permintaan yang jelas. Mereka datang dengan kebingungan. Mereka tidak selalu tahu apa yang mereka butuhkan, tapi tahu bahwa pendekatan lama tidak lagi bekerja. Di sinilah absurd berhenti menjadi konsep filsafat, dan mulai menjadi pengalaman sosial.
Perlahan, perubahan ini merembet ke cara manusia bekerja dan mencari nafkah.
Dunia kerja yang dulu mengandalkan jalur lurus kini mulai retak. Karier tidak lagi linear. Profesi baru lahir dari hal-hal yang dulu dianggap tidak serius, tidak penting, bahkan tidak masuk akal. Kreativitas, ironi, sudut pandang nyeleneh, dan pendekatan anti-mainstream mulai mendapat tempat. Bukan karena dunia ingin menjadi aneh, tapi karena dunia butuh cara baru untuk memahami dirinya sendiri.
Masuk ke ranah ekonomi, absurd mengalami transformasi yang paling mengejutkan.
Dalam gig economy dan dunia freelancer, nilai tidak lagi hanya ditentukan oleh gelar atau jabatan, tapi oleh relevansi. Masalah yang kompleks sering kali tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan standar. Di sinilah muncul dua peran alami yang makin sering kita temui, meski belum banyak disebut secara eksplisit: Seeker dan Solver.
Seeker adalah mereka yang datang dengan keresahan, kebingungan, atau masalah yang tidak bisa dirumuskan secara rapi. Solver adalah mereka yang berani menawarkan sudut pandang berbeda, solusi tidak biasa, dan pendekatan yang kadang terlihat absurd di awal, tapi justru relevan di akhir.
Hubungan ini bukan sekadar transaksi jasa. Ia adalah cerminan zaman.
Ditahun 2026, Jasa Anti Mainstream diprediksi akan semakin menonjol. Bukan karena tren semata, tapi karena kebutuhan. Dunia yang terlalu kompleks tidak bisa terus disederhanakan dengan solusi dangkal. Brand butuh pendekatan yang terasa manusiawi. Individu butuh ruang untuk bereksperimen. Organisasi butuh keberanian untuk mencoba hal-hal yang belum tentu rapi, tapi jujur.
Bagi Gen Millennial dan Gen Z, absurd bukan ancaman. Mereka tumbuh bersama meme, satire, dan ironi sebagai bahasa sehari-hari. Mereka paham bahwa keanehan sering kali lebih jujur daripada kesempurnaan yang dipoles. Dalam konteks ini, absurd bukan kekacauan, melainkan adaptasi.
Hari ini, absurd telah berubah. Dari konsep filsafat, menjadi pengalaman sosial. Dari keresahan kolektif, menjadi cara berpikir. Dan kini, perlahan, menjadi sumber nilai ekonomi.
Beberapa orang masih menyebutnya aneh. Sebagian menyebutnya eksperimen. Namun semakin banyak yang mulai melihat satu hal yang sama: di balik keanehan itu, ada peluang. Dan di ruang-ruang itulah, ekosistem baru mulai tumbuh, menghubungkan mereka yang mencari dengan mereka yang berani menjawab, meski caranya tidak selalu konvensional.
Ditulis oleh Minsurd
Content Creator di Jasurd yang hobi nyari cuan sampingan. Suka nulis tentang tips freelance dan travel hack.