Trend Jasa Absurd 2026: Ketika Negara Mulai Menyerahkan Kreativitas sebagai Jalan Keluar
PenulisMinsurd
Tanggal18 Jan 2026

1 min read
29 views
3 shares
Tidak semua orang akan diselamatkan oleh sistem. Sebagian harus menemukan jalannya sendiri. Dan di ruang itulah, jasa-jasa yang terlihat aneh hari ini (absurd) mungkin justru menjadi bentuk rasionalitas baru.
Belakangan ini, satu narasi semakin sering terdengar: [Gig Economy Indonesia](https://jasurd.com/insight/gig-economy-indonesia-dari-ojek-online-sampai-jasa-teman-chat) adalah masa depan. Pemerintah mendorongnya lewat berbagai kementerian, dari Menko Perekonomian Airlangga Hartato, Menteri Perindustrian Agus Gumiwiang, Menteri UMKM, hingga Menteri Tenaga kerja. Bahasa yang digunakan rapi dan optimistis. Gig economy disebut sebagai kontributor penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi delapan persen menuju Indonesia Emas.
Di permukaan, semua terdengar masuk akal.
Lapangan kerja baru. Fleksibilitas. Inovasi. Partisipasi masyarakat. Namun jika dilihat lebih dalam, dorongan ini juga menyimpan kegelisahan yang jarang dibicarakan secara terbuka. Negara sedang berada di titik di mana menciptakan pekerjaan formal dalam jumlah besar semakin sulit. Industri tidak lagi menyerap tenaga kerja secepat dulu. Otomatisasi, efisiensi, dan tekanan global mempersempit ruang.
Gig economy muncul sebagai solusi yang “aman”.
Alih-alih menciptakan pekerjaan, sistem ini mendorong masyarakat untuk menciptakan pekerjaannya sendiri. Risiko bergeser pelan-pelan, dari negara ke individu. Dari sistem ke personal. Dan dalam kondisi seperti ini, satu hal menjadi jelas: tidak semua orang bisa bertahan hanya dengan keahlian standar.
Di sinilah absurditas mulai terasa.
Semakin banyak orang masuk ke dunia jasa, semakin seragam penawaran yang muncul. Jasa desain, penulisan, pengembangan web, konsultasi, semua tumbuh pesat. Tapi pertanyaannya sederhana: jika semua menawarkan hal yang sama, siapa yang benar-benar dibutuhkan?
Tekanan ekonomi tidak menciptakan kreativitas yang nyaman. Ia menciptakan kreativitas yang terpaksa.
Menuju 2026, [Jasa Absurd](https://jasurd.com/insight/jasa-absurd-itu-nyata-kenapa-orang-mau-bayar-hal-aneh) sekadar tren gaya hidup atau keunikan generasi muda. Ia adalah respons terhadap sistem yang kehabisan cara lama. Ketika jalur konvensional menyempit, orang mulai mencari celah. Mereka menawarkan jasa yang tidak biasa, pendekatan yang nyeleneh, dan solusi yang tidak masuk dalam definisi kerja tradisional.
Bukan karena ingin terlihat beda, tapi karena harus.
Jasa absurd lahir dari situasi di mana logika lama tidak lagi cukup. Ketika pekerjaan formal tidak tersedia untuk semua, dan jasa mainstream terlalu padat, keanehan menjadi bentuk adaptasi. Pendekatan yang dulu dianggap tidak serius kini justru menjadi pembeda yang menyelamatkan.
Yang menarik, narasi ini jarang disampaikan secara jujur. Gig economy dipromosikan sebagai peluang, bukan sebagai tanda keterbatasan. Kreativitas dipuji, tanpa membahas bahwa ia sering kali lahir dari tekanan. Kebebasan dirayakan, tanpa membicarakan bahwa tanggung jawab kini sepenuhnya berada di pundak individu.
Dalam kondisi seperti ini, jasa absurd berkembang bukan karena dunia sedang bermain-main, tetapi karena dunia sedang mencari cara bertahan.
Absurd menjadi bahasa baru ekonomi informal. Ia tidak tunduk sepenuhnya pada struktur lama, tapi juga tidak sepenuhnya bebas. Ia hidup di antara kebutuhan dan kreativitas, antara tekanan dan peluang.
Menuju Indonesia Emas, satu hal menjadi jelas: tidak semua orang akan diselamatkan oleh sistem. Sebagian harus menemukan jalannya sendiri. Dan di ruang itulah, jasa-jasa yang terlihat aneh hari ini mungkin justru menjadi bentuk rasionalitas baru.
Bukan karena sistem ini ideal, tetapi karena sistem lain mulai kehabisan napas.
Di permukaan, semua terdengar masuk akal.
Lapangan kerja baru. Fleksibilitas. Inovasi. Partisipasi masyarakat. Namun jika dilihat lebih dalam, dorongan ini juga menyimpan kegelisahan yang jarang dibicarakan secara terbuka. Negara sedang berada di titik di mana menciptakan pekerjaan formal dalam jumlah besar semakin sulit. Industri tidak lagi menyerap tenaga kerja secepat dulu. Otomatisasi, efisiensi, dan tekanan global mempersempit ruang.
Gig economy muncul sebagai solusi yang “aman”.
Alih-alih menciptakan pekerjaan, sistem ini mendorong masyarakat untuk menciptakan pekerjaannya sendiri. Risiko bergeser pelan-pelan, dari negara ke individu. Dari sistem ke personal. Dan dalam kondisi seperti ini, satu hal menjadi jelas: tidak semua orang bisa bertahan hanya dengan keahlian standar.
Di sinilah absurditas mulai terasa.
Semakin banyak orang masuk ke dunia jasa, semakin seragam penawaran yang muncul. Jasa desain, penulisan, pengembangan web, konsultasi, semua tumbuh pesat. Tapi pertanyaannya sederhana: jika semua menawarkan hal yang sama, siapa yang benar-benar dibutuhkan?
Tekanan ekonomi tidak menciptakan kreativitas yang nyaman. Ia menciptakan kreativitas yang terpaksa.
Menuju 2026, [Jasa Absurd](https://jasurd.com/insight/jasa-absurd-itu-nyata-kenapa-orang-mau-bayar-hal-aneh) sekadar tren gaya hidup atau keunikan generasi muda. Ia adalah respons terhadap sistem yang kehabisan cara lama. Ketika jalur konvensional menyempit, orang mulai mencari celah. Mereka menawarkan jasa yang tidak biasa, pendekatan yang nyeleneh, dan solusi yang tidak masuk dalam definisi kerja tradisional.
Bukan karena ingin terlihat beda, tapi karena harus.
Jasa absurd lahir dari situasi di mana logika lama tidak lagi cukup. Ketika pekerjaan formal tidak tersedia untuk semua, dan jasa mainstream terlalu padat, keanehan menjadi bentuk adaptasi. Pendekatan yang dulu dianggap tidak serius kini justru menjadi pembeda yang menyelamatkan.
Yang menarik, narasi ini jarang disampaikan secara jujur. Gig economy dipromosikan sebagai peluang, bukan sebagai tanda keterbatasan. Kreativitas dipuji, tanpa membahas bahwa ia sering kali lahir dari tekanan. Kebebasan dirayakan, tanpa membicarakan bahwa tanggung jawab kini sepenuhnya berada di pundak individu.
Dalam kondisi seperti ini, jasa absurd berkembang bukan karena dunia sedang bermain-main, tetapi karena dunia sedang mencari cara bertahan.
Absurd menjadi bahasa baru ekonomi informal. Ia tidak tunduk sepenuhnya pada struktur lama, tapi juga tidak sepenuhnya bebas. Ia hidup di antara kebutuhan dan kreativitas, antara tekanan dan peluang.
Menuju Indonesia Emas, satu hal menjadi jelas: tidak semua orang akan diselamatkan oleh sistem. Sebagian harus menemukan jalannya sendiri. Dan di ruang itulah, jasa-jasa yang terlihat aneh hari ini mungkin justru menjadi bentuk rasionalitas baru.
Bukan karena sistem ini ideal, tetapi karena sistem lain mulai kehabisan napas.
Ditulis oleh Minsurd
Content Creator di Jasurd yang hobi nyari cuan sampingan. Suka nulis tentang tips freelance dan travel hack.